Felspar

Posted: November 30, 2010 in rocks N' minerals
Tag:, ,

Kata felspar diserap dari feldspar yang menurut Deer dkk (1966) berasal dari dua kata dalam bahasa Swedia: feldt atau fält yang berarti medan dan spath yang bermakna pecahan batuan dalam batuan granit.  Pengertian spar lebih diperjelas lagi oleh Castle dan Gilson (1960) yang mengutip istilah spat dalam bahasa Jerman dan mengacu kepada setiap mineral transparan atau translusen berkarakter bidang belah.  Pada awalnya istilah spar digunakan untuk menamakan setiap mineral selain dari felspar itu sendiri seperti kepada barit, kalsit dan fluorit (Rogers dan Neal, 1975).  Sebagai contoh istilah barium felspar – walaupun jarang dan tidak mempunyai nilai ekonomis – adalah benar; dalam hal ini pengertian felspar untuk keperluan komersial hanya mengacu kepada 3 mineral silikat yang mempunyai formula K3AlSi3O8 (ortoklas atau mikroklin), NaAlSi3O8 (albit) dan CaAl2Si2O8 (anortit).  Dua yang terahir adalah mineral-mineral yang termasuk ke dalam kelompok plagioklas.  Di alam ketiganya hampir tidak ditemukan dalam bentuk murni tetapi terdapat bersamaan secara melimpah.

Sebagai bahan galian industri yang banyak dipakai oleh industri keramik dan gelas/kaca, pemenuhan kebutuhan felspar di Indonesia sebagian besar masih dipasok oleh felspar impor walaupun potensi endapan felspar di Indonesia cukup berarti.  Kualitas yang rendah menjadi kendala bagi pemenuhan di industri di atas. Upaya mengurangi ketergantungan terhadap felspar impor sudah merupakan suatu keharusan, mengingat saat ini krisis ekonomi sedang melanda Indonesias.  Salah satu cara adalah dengan meningkatkan kualitas felspar yang ada menjadi layak konsumsi seperti felspar Bojonegoro cocok untuk bodi keramik, tapi tidak cocok untuk glasur.  Dalam hal ini pengolahan felspar Indonesia harus  mengacu kepada jenis dan karakteristik endapan felspar itu sendiri yang cenderung bervariasi (Ardha, 1993).

GEOLOGI

Mineral pembentuk batuan dibedakan atas mineral mafik dan felsik; yang pertama mengacu kepada mineral-mineral feromagnesian berupa mineral-mineral silikat mengandung unsur besi (Fe) dan atau magnesium (Mg) sebagai unsur dominan. Mineral mafik dikelompokkan menjadi olivin, hipersten, augit, hornblende, dan biotit.  Warna mineral-mineral tersebut umumnya gelap (hijau gelap, coklat atau hitam).  Felsik (akronim dari felspar – silika) digunakan untuk mineral-mineral silikat berwarna lebih terang seperti kuarsa, felspar dan felspatoid.  Batuan yang mempunyai komposisi mineral mafik lebih dominan disebut batuan basa sebaliknya bila komposisi mineral felsik lebih abnyak di sebut batuan asam, sedangkan batuan dengan komposisi mineral mafik dan felsik seimbang digolongkan ke dalam batuan intermedien


Mula Jadi

Terbentuk dari proses kristalisasi magma, felspar biasanya berasosiasi dengan batuan granitis dan metamorfis, paling umum dijumpai pada korok pegmatis.  Pegmatit yang mempunyai nilai komersial umumnya mempunyai bentuk seperti lensa dengan panjang bervariasi dari 0,3 sampai 1500 m.  Karena terbentuk langsung dari proses kristalisasi magma, jenis felspar ini disebut felspar primer, berukuran kasar dan terdapat berasosiasi dengan kuarsa.  Kehadiran kuarsa ini bersifat pengotor yang harus dipisahkan pada saat pengolahan. Untuk keperluan komersial, felspar primer harus mempunyai kadar alkali total (K2O + Na2O) > 10%.

Selain felspar primer, terdapat pula jenis lain yang digolongkan ke dalam felspar diagenetis dan aluvial. Kedua jenis felspar di atas adalah felspar sekunder.  Yang pertama terbentuk karena proses diagenesis sedimen piroklastik halus asam yang terendapkan dalam lingkungan air lakustrin, yang berasosiasi dengan cekungan sedimen tersier, umumnya endapan bentonit atau zeoilit, felspar diagenetis mempunyai kadar alkali total (K2O + Na2O) relatif rendah (5%). Felspar aluvial terjadi sebagai akibat rombakan batuan granit dan batuan asam lainnya.  Kadar alkali total berkisar antara 5- 10%. Kedua jenis felspar banyak terkandung mineral ikutan, seperti mika, hematit, tourmalin, garnet dan kuarsa (Hardjatmo dkk, 1992).     


Mineralogi

Sebagai mineral silikat pembentuk batuan, felspar mempunyai kerangka struktur tektosilikat yang menunjukkan 4 (empat) atom oksigen dalam struktur tetrahedra SiO2 yang dipakai juga oleh struktur tetrahedra lainnya.  Kondisi ini menghasilkan kisi-kisi kristal seimbang terutama bila ada kation-kation lain yang masuk ke dalam struktur tersebut seperti penggantian silikon oleh aluminium.

 

Terlepas dari bentuk strukturnya, apakah triklin atau monoklin, felspar secara kimiawi dibagi menjadi empat kelompok mineral yaitu kalium felspar (KAlSi3O8), natrium felspar (NaAlSi3O8), kalsium felspar (CaAl2Si2O8) dan barium felspar (Ba Al2Si2O8) sedangkan secara mineralogi felspar dikelompokkan menjadi plagioklas dan K-felspar.  Plagioklas merupakan seri yang menerus suatu larutan padat tersusun dari variasi komposisi natrium felspar dan kalsium felspar.

Kelompok felspar mempunyai struktur kristal triklin, terdiri dari Na-plagioklas murni (albit, disingkat Ab) sampai Ca-plagioklas murni (anortit, disingkat An).  Whiten dan Brooks (1972) secara diagram mengelompokkan plagioklas sebagai berikut:

 

Plagioklas felspar hampir selalu memperlihatkan kenampakan melidah yang kembar (lamellar twinning) bila sayatan tipis mineral tersebut dilihat  secara mikroskopis.  Sifat optis yang progresif sejalan dengan berubahnya komposisi mineralogi memudahkan dalam identifikasi mineral-mineral felspar yang termasuk ke dalam kelompok plagioklas tersebut.  Na-plagioklas banyak ditemukan dalam batuan kaya unsur alkali (granit, sienit).  Andesin dan oligoklas terdapat pada batuan intermediate seperti diorit sedangkan labradorit, bitownit dan anortit biasanya sebagai komponen batuan basa (gabro) dan anortosit.

Mineral yang termasuk kelompok K-felspar diklasifikasikan berdasarkan suhu ristalisasinya, mulai dari sanidin (suhu tinggi), ortoklas, mikroklin sampai adu-laria (suhu rendah).  Keempat mineral mempunyai rumus kimia sama yaitu KAlSi3O8 dan (terutama) ditemukan pada batuan beku asam seperti granit dan sienit, selain itu ditemukan pula pada batuan metamorfosis dan hasil re-work pada batuan sedimen.

Potensi Endapan

Berbicara mengenai potensi endapan felspar di Indonesia, sebaran material ini terdapat hampir di seluruh negeri dengan bentuk endapan berbeda dari satu daerah dengan daerah yang lain tergantung jenis endapan, primer atau sekunder.

Data dari Direktorat Inventarisasi Sumberdaya Mineral menunjukkan cadangan terukur (proved), tereka (probable) dan terindikasi (possible) masing-masing sebesar 271.693, 11.728 dan 56.561 ribu ton (Lampiran).

PERTAMBANGAN

Letak endapan yang relatif dangkal dari permukaan tanah, penambangan felspar umumnya dilakukan secara tambang terbuka.  Perusahaan dengan investasi terbatas masih menggunakan peralatan gali sederhana (cangkul, linggis, sekop) seperti yang terdapat di daerah Blitar dan Banjarnegara (Ardha, 1995).  Perusahaan yang mempunyai kecukupan modal menambang bahan galian ini dengan peralatan yang relatif modern (backhoe, bulldozer dll.) seperti yang terdapat di daerah Lampung Tengah.

Eksplorasi

Tujuan eksplorasi adalah mencari gambaran daerah yang akan ditambang sebagai panduan agar diperoleh hasil yang optimum dan terarah dengan biaya yang bisa ditekan serendah mungkin.

Kegiatan eksplorasi meliputi pemetaan skala rinci (biasanya 1:1.000), pemboran dan pembuatan sumur uji.  Pemetaan berisi informasi geologi rinci daerah yang akan ditambang termasuk sebaran bahan galian termaksud, lokasi titik-titik bor dan sumur uji sedangkan maksud pemboran adalah untuk mengetahui sebaran felspar secara vertikal dan horizontal dan ketebalan lapisan tanah penutup.  Sama dengan informasi dari pemboran, pembuatan sumur uji juga dimaksudkan untuk mengetahui kondisi sebaran bahan galian yang dikehendaki dan variasi ketebalan tanah penutup.  Pemboran dan pembuatan sumur uji dilakukan tergantung kepada kondisi bahan galian yang akan ditambang.

 

Penambangan

Langkah pertama penambangan felspar dengan metoda tambang terbuka adalah pengupasan lapisan penutup.  Buangan tanah penutup sebaiknya diatur dan ditempatkan sedemikian rupa pada suatu area, tidak bercampur limbah buangan/ batuan lain. Itu dimaksudkan untuk meminimumkan perubahan unsur hara asli sehingga ketika reklamasi (apabila usia tambang telah habis), penanaman-ulang (re-vegetation) bisa berlangsung dengan baik. Penambangan felspar biasanya menggunakan sistem teras (bench system) seperti dilakukan di Desa Nyukangharjo, Kecamatan Padangratu, Kabupaten Lampung Tengah  (Gambar 1). Teras biasanya memiliki ketinggian tiga m sedangkan lebar jenjang sekitar 5 m untuk memperoleh permukaan kerja yang aman dan memudahkan pekerjaan.  Proses penambangan selanjutnya adalah penggalian dan pembongkaran endapan  yang dilanjutkan dengan penyortiran sebelum diangkut ke pelataran penumpukan (stockpile).  Dari tempat penumpukan, felspar dapat langsung dipasarkan atau jika pengusaha tambang mempunyai kecukupan modal usaha, material tersebut diolah terlebih dahulu untuk meninggikan mutu dengan jalan menghilangkan material pengotor yang terkandung di dalamnya.  Material silikat (kuarsa, mineral lempung, mika dll.) dan oksida besi adalah pengotor-pengotor yang biasanya berasosiasi dengan felspar dan dapat menurunkan kualitasnya.

Pengolahan

Tergantung kepada jenis batuan dan industri yang membutuhkannya, felspar dapat diolah secara sederhana atau teknologi yang lebih rumit (Hartono dan Baraba dalam Ardha, 1995). Proses yang sederhana bisa diterapkan untuk mineral felspar yang berukuran relatif kasar, terutama yang berasal dari pegmatit dan (relatif) sedikit mengandung pengotor.  Pengolahan sederhana meliputi pemilahan kristal felspar (dengan tangan) untuk kemudian diremukkan dan dicuci. Pengayakan dilakukan untuk memilah bahan baku sesuai dengan spesifikasi yang dikehendaki oleh konsumen.

Pengolahan felspar yang lebih rumit dilakukan bila felspar terdapat pada atau terjadi dari batuan yang mengalami ubahan (pelapukan, metamorfosa).  Mineral-mineral oksida besi dapat dipisahkan dengan magnet berintensitas tinggi, sementara mineral pengotor lain yang tidak bersifat magnet dan juga mineral magnetis yang lolos (bila ada) dipisahkan secara flotasi setelah melalui proses pengawalanauan (desliming).  Proses flotasi sendiri dibedakan atas flotasi buih (froth flotation) yang efektif untuk partikel berukuran relatif kasar (>10 mesh) dan flotasi kolom untuk partikel berukuran halus (< 10 mesh).

Kedua jenis flotasi, secara selektif memanfaatkan media gelembung udara untuk mengapungkan mineral hidrofobi.  Perbedaannya adalah  kinerja udara, air dan padatan bergerak dalam satu arah pada flotasi buih sedangkan prinsip dasar flotasi kolom adalah memasukkan udara pada bagian dasar kolom sehingga gelembung naik ke permukaan melalui aliran padatan (slurry) yang bergerak ke bawah (counter current). Kondisi ini memperbaiki kinerja efek hidrodinamika yang terjadi pada saat flotasi konvensio-nal sehingga diharapkan perolehan produk yang lebih bersih dengan biaya operasi relatif kecil. Baik flotasi buih maupun kolom, keduanya membutuhkan reagen kimia tertentu untuk kelang-sungan prosesnya seperti pengatur pH, surfactant dan pembuih (frother).

Contoh pengolahan felspar skala pilot plant di Indonesia yang cukup berhasil meningkatkan kualitas felspar dari 5,22 % K2O+Na2O menjadi 22,81% adalah flotasi felspar Banjarnegara yang dilakukan oleh Ardha, dkk. [2], pada 1999 (Gambar 2).

Sayang, kendala modal dari penambang rakyat setempat hanya melakukan proses sampai ke tahap pengayak getar; partikel felspar berukuran +30 mesh langsung dijual ke konsumen sedangkan yang berukuran – 30 mesh sebelum dijual ke konsumen dicuci lebih dahulu.  Pemanfaatan bagan alir ini secara keseluruhan baru bisa terlaksana bila ada penanam modal yang mempunyai dana memadai. Flotasi buih biasa berlangsung pada suasana asam seperti dilakukan di Amerika Serikat, Jepang dan beberapa negara Eropa dengan menambahkan HF pada saat pengkondisian.

Kesadaran lingkungan yang tinggi dan pemikiran ekonomi mendorong para pakar untuk mencari alternatif flotasi pada pH (mendekati) normal tanpa harus menggunakan asam hidrofluor yang beracun dan mahal, seperti yang berhasil dilakukan di Jepang.

KEGUNAAN DAN SPESIFIKASI

Keberadaan felspar dalam kerak bumi cukup melimpah.  Walaupun demikian untuk keperluan komersial dibutuhkan felspar yang memiliki kandungan (K2O + Na2O) > 10%. Selain itu, material pengotor oksida besi, kuarsa, oksida titanium dan pengotor lain yang berasosiasi dengan felspar diusahakan sesedikit mungkin.

Kegunaan

Felspar dari alam setelah diolah dapat dimanfaatkan untuk batu gurinda dan  felspar olahan untuk keperluan industri tertentu. Mineral ikutannya dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri lain sesuai spesifikasi yang ditentukan.  Industri keramik halus dan kaca/gelas merupakan dua industri yang paling banyak mengkonsumsi felspar olahan, terutama yang memiliki kandungan K2O tinggi dan CaO rendah. Kegunaan felspar secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 3.

Spesifikasi

Sebagai industri yang banyak mengkonsumsi felspar, industri keramik mensyaratkan beberapa hal untuk felspar olahan agar bisa digunakan sebagai tercantum dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 1145 tahun 1984 (Tabel 2).

Untuk pembuatan glasir dengan bahan felspar, tergantung kelasnya yang mengharuskan memiliki kandungan oksida natrium dan besi dalam jumlah tertentu seperti tercantum pada Tabel 3.

Industri kaca/gelas, gelas amber dan kaca lembaran mempunyai spesifikasi tertentu pula yang harus dipenuhi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan keinginan pasar seperti yan tercantum pada Tabel 4.

Sebagai komponen batuan granit bersama kuarsa, mika dan mineral aksesori, keindahan mineral felspar dimanfaatkan untuk batu hias (ornament stone).  Keindahan ini akan terlihat bila batuan granit tersebut telah dipotong dalam bentuk lembaran (slab) dan dipoles. Istilah bahwa felspar adalah batu. Dalam hal ini batumulia mungkin muncul dari kondisi ini yang kemudian menjadi salah kaprah.  Felsparnya sendiri dan material lain penyusun granit tetap berperan sebagai mineral bukan batuan, karena mineral ini ternasuk (included) bagian batuan granit, masyarakat awam kemudian menyamaratakan menjadi batuan.


Tabel 2. Spesifikasi felspar untuk keperluan industri keramik halus

 

Jenis industri Komposisi (%)
  K2O+Na2O Fe2O3 maks TiO2 maks CaO maks
Porselen Saniter Gerabah hls. pdt. Gerabah hls. tdk. pdt. 6,0-15,0 6,0-15,0 6,0-15,0 6,0-15,0 0,5 0,7 0,8 1,0 0,3 0,7 – – 0,5 0,5 1,0 –

Sumber : Ardha, 1995, dimodifikasi

Tabel 3. Persyatan bahan baku felspar untuk keperluan industri glasir

 

Glasir kls. Komposisi (%)
  Na2O Fe2O3
1 2 3 4 5 2,00-2,99 3,00-3,99 4,00-4,99 5,00-5,99 6,00-6,99 Maks. 0,3% utk semua kls.

Sumber : Ardha, 1995, dimodifikasi

 

 

Jenis industri Syarat kimia Syarat fisik
  Komposisi oksida (%) Ukuran partikel (%)
  K2O+ Na2O K2O Al2O3 CaO Fe2O3 SiO2 +20 mesh -20 mesh -100 mesh
Gelas Amber Kc. lbr. >11 – – – >10 >10 >17 >18 >18 2 – – 0,1-0,2 0,05 <0,80 68,00-69,99 6 – 1 – – 99,55 – – 25% – –
Tabel 4. Spesifikasi felspar yang diperlukan pada industri gelas/kaca

Sumber : Ardha, 1995, dimodifikasi

 

PERKEMBANGAN DAN PROSPEK

 

Dari segi cadangan,  felspar Indonesia cukup melimpah. Secara keseluruhan cadangan terukur adalah 271.693 ribu ton sedangkan cadangan terindikasi dan tereka masing-masing  sebesar 11.728 ribu ton dan 56.561 ribu ton, sehingga layak untuk dikembangkan.  Walaupun demikian dari segi kualitas, felspar negeri ini masih jauh dibandingkan dengan kualitas felspar impor sehingga sisi teknologi pengolahan perlu mendapat perhatian.


Keekonomian

Potensi, teknologi, pemasokan, permintaan dan perkembangan industri hilir adalah faktor yang harus diperhitungkan bila seseorang akan berusaha di sektor komoditas felspar.  Kajian terhadap faktor-faktor di atas akan berperan dalam penyediaan dana yang diperlukan untuk investasi.  Dalam hal ini dana menyangkut modal tetap dan kerja; yang pertama meliputi tanah, bangunan,mesin dan peralatan, serta kendaraan untuk keperluan operasional lapangan.  Modal kerja diperlukan untuk kelangsungan operasional sehari-hari, meliputi gaji, upah, bahan bakar dan lain-lain.

Beberapa kriteria yang bisa dijadikan indikator keberhasilan pengusahaan material ini adalah net present value (NPV), internal rate of return (IRR) dan payback period (PP).  NPV menghitung selisih antara nilai investasi saat ini dengan nilai penerimaan-penerimaan kas bersih saat ini di masa datang.  Perusahaan di sebut merugi bila nilai NPV negatif.  IRR merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value aliran kas yang masuk sedangkan PP diperlukan untuk mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali modal.  Di samping ketiga hal di atas, faktor lain yang harus diperhatikan adalah analisis kepekaan, penurunan harga felspar dan kenaikan biaya operasi (Mandalawanto, 2000).

 

Pemasokan dan Permintaan

 

Sejalan dengan berkembangnya industri pemakai felspar yang terus meningkat; kebutuhan dan produksi material di indonesia juga ikut meningkat.  Pada 1995 merupakan puncak perkembangan produksi felspar yang tercatat oleh Biro Pusat statistik ( 50.000 ton).  Sayangnya seiring dengan krisis moneter  yang melanda negeri ini yang dimulai pada 1998, produksi felspar juga ikut menurun seperti terlihat pada Gambar 4,  bahkan untuk era 2000 belum ditemukan lagi data terbaru mengenai komoditi ini yang dibuat oleh Biro Pusat Statistik (Mandalawanto, tidak diterbitkan).

Pengamatan Mandalawanto (2000, tidak diterbitkan) terhadap konsumsi felspar di

Indonesia era 1977 – 1997 menunjukkan gambaran yang berfluktuasi.  Hal ini tercermin dari indikator peningkatan penawaran pada perioda tersebut.    Konsumsi felspar terbesar tercatat pada 1993 (105.380 ton), diserap oleh industri

keramik , porselen, gelas berwarna, kaca lembaran dan industri lainnya.  Sayangnya pemenuhan konsumsi dalam negeri ini – karena keterbatasan teknologi dalam mengolah felspar alam Indonesia sampai kadar tertentu sesuai spesifikasi yang diinginkan – sebagian masih dipasok oleh impor.  Impor felspar – untuk kurun 1977-1997 – meningkat sebesar 17,6%; tercatat sebesar 6.014 ton pada 1997, 84.993 ton pada 1995 dan menurun drastis menjadi 41.408 ton pada 1997 sejalan dengan krisis ekonomi negeri ini. Impor felspar berasal dari Cina, Thailand, Malaysia dan Australia.  Imbas krisis ekonomi di negeri ini terhadap pemakaian felpar terlihat nyata pada 1998 (Gambar 5).  Selama tahun tersebut hanya 38,589,646 Kg felspar yang dikonsumsi oleh industri pemakai material ini di Indonesia. Gejala penurunan sebenarnya sudah mulai terjadi pada 1997 – awal krisis moneter di negeri ini.  Pada 1999, pemakaian felspar sebagai bahan baku mulai nampak meningkat kembali.  Sayangnya tidak ada lagi data yang ditemui dari Biro Pusat Statistik  (BPS) untuk konsumsi pada 2000 – 2002 sehingga belum bisa dilihat apakah menurun kembali atau makin meningkat.  Keterbatasan data juga terjadi untuk sektor impor; yang tercatat di BPS adalah impor felspar untuk 1998 sebesar 92.373,61ton sedangkan pada 1996, 1997, 1998 dan 2000 tidak ada data.

Produksi felspar selama kurun 1993 – 1998 juga tidak terlepas dari imbas krisis moneter negeri ini.  Pada 1993 – 1995, produksi felspar menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun yang kemudian turun drastis pada 1996 menjelang krisis ekonomi yang terjadi pada 1997 bahkan pada 1997 tidak tercatat adanya produksi (Gambar 6).

Pada 1998 tercatat felspar yang diproduksi sebesar 53.063 ton.

Gambar 4.  Data aktual dan estimasi produksi felspar untuk 1977-1997

 

 

 

Gambar 5. Pemakaian felspar di Indonesia dari 1995 – 1999

 

 

 

Gambar 6. Produksi felspar Indonesia dari 1993 – 1998

 

Walaupun angka tersebut menunjukkan hal yang signifikan dibandingkan tahun 1996, seperti halnya data konsumsi, sulit diprediksi apakah tahun 1999 – 2001 produksi felspar akan meningkat atau tidak mengingat sampai saat ini Indonesia belum keluar dari multi krisis yang dihadapinya.  Ada kemungkinan angka yang ditunjukkan pada 1998 merupakan data gabungan antara data 1997 dengan 1998, walaupun untuk 1997 sendiri produksi felspar tidak terdeteksi mungkin karena kecilnya angka tersebut.

Belum adanya laporan secara periodik membuat harga standar felspar di Indonesia belum dapat ditentukan (Mandalawanto, tidak diterbitkan).

Harga biasanya diperoleh dengan membagi nilai konsumsi dengan jumlah tonase konsumsi setiap tahunnya dan ini akan menunjukkan harga beli rata-rata oleh pabrik.  Dalam hal ini, kualitas dan kuantitas felspar yang dibeli dan jarak antar industri pemakai dari pelabuhan impor adalah sebagian faktor yang turut menentukan variasi harga komoditi ini.    Bila berpatokan kepada harga konstan di tahun 1993  terjadi kenaikan rata-rata 10,4 % per tahun. Namun kembali lagi kepada faktor krisis ekonomi neger ini, angka tersebut kemungkinan berubah.

 

Sebagai komoditi yang mempunyai cadangan berlimpah, felspar di Indonesia

mempunyai kesempatan untuk dikembangkan potensinya dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya.  Hal ini ditunjang oleh kenyataan bahwa kebutuhan terhadap samping itu krisis moneter dan ekonomi yang berkepanjangan di negeri ini merupakan motivasi agar kebutuhan felspar di Indonesia tidak tergantung kepada felspar impor yang harganya semakin mahal.  Penelitian yang berkesinambungan hingga mencapai sasaran berdirinya industri pengolahan felspar skala pabrik komersial akan sangat bermanfaat dalam menghasilkan felspar kualitas impor atau yang setara dengan standar industri pemakai.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s