Maceral Liptinite

Posted: Mei 31, 2010 in paper 07
Tag:, , , ,

MACERAL LIPTINITE

ACHMADIN NOVAR

093 270 018

SARI

Maceral merupakan suatu hal atau pembahasan yang tak terpisahkan dengan batubara. Maceral merupakan suatu material yang terdapat didalam batubara yang hanya terlihat dengan menggunakan mikroskop. Maceral dari batubara terbagi ats tiga golongan grup maceral, yaitu Vitrinite, Liptinite, dan Inertinite. Liptinit tidak berasal dari materi yang dapat terhumifikasikan melainkan berasal dari sisa tumbuhan atau dari dari jenis tanaman tingkat rendah seperti spora, ganggang (algae), kutikula, getah tanaman (resin) dan serbuk sari (pollen). Berdasarkan morfologi dan bahan asalnya, kelompok liptinite dapat dibedakan menjadi sporinite (spora dan butiran pollen), cutinite (kutikula), resinite (resin/damar), exudatinite (maseral sekunder yang berasal dari getah maseral liptinite lainnya yang keluar pada proses pembatubaraan), suberinite (kulit kayu/serat gabus), fluorinite (degradasi dari resinite), liptodetrinite (detritus dari maseral liptinite lainnya), alginite (ganggang) dan bituminite (degradasi material algae).

ABSTRAK

Coal is an extremely complex heterogeneous material that is difficult to characterize. Coal is a rock formed by geological processes and is composed of a number of distinct organic entities called macerals and lesser amounts of inorganic substances – minerals. The essence of the petrographic approach to the study of coal composition is the idea that coal is composed macerals, which each have a distinct set of physical and chemical properties that contol the behavior of coal. The term was first introduced by Dr. Marie Stopes who said that “These organic units, composing the coal mass I propose to call macerals, and they are the descriptive equivalent of the inorganic units composing rock masses and universally called minerals, and to which petrologists are well accustomed to give distinctive names.” There are three basic groups of macerals, the vitrinite group derived from coalified woody tissue, the liptinite group derived from the resinous and waxy parts of plants and the inertinite group derived from charred and biochemically altered plant cell wall material. This section is composed of photomicrographs of just a few of the most common macerals in coal and is meant only to serve as an introduction to coal petrography.

TEORI

Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Periode ini adalah masa pembentukan batubara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batubara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batubara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 – 13 jtl) di pelbagai belahan bumi lain.Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai   terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batubara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batubara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi. Batubara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tergolong kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batubara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batubara Miosen. Sebaliknya, endapan batubara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batubara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan. Batubara tidak hanya disusun oleh materi organik tetapi ada juga materi anorganik yang menjadi bagian dari batubara tetapi ada juga materi anorganik yang menjadi bagian dari batubara yang dikenal dengan istilah maseral. Maseral merupakan bagian terkecil dari batubara yang bisa teramati dengan mikroskop. Maseral dikelompokan berdasarkan tumbuhan atau bagian tumbuhan penyusunnya menjadi tiga grup yaitu Vitrinitit (ialah hasil dari proses pembatubaraan materi humic yang berasal dari selulosa (C6H10O5) dan lignin dinding sel tumbuhan yang mengandung serat kayu (woody tissues) seperti batang, akar, daun, dan akar), Liptinite (Liptinit tidak berasal dari materi yang dapat terhumifikasikan melainkan berasal dari sisa tumbuhan atau dari dari jenis tanaman tingkat rendah seperti spora, ganggang (algae), kutikula, getah tanaman (resin) dan serbuk sari (pollen) ) dan Inertinite (berasal dari tumbuhan yang sudah terbakar dan sebagian lagi berasal dari hasil proses oksidasi maseral lainnya atau proses decarboxylation yang disebabkan oleh jamur dan bakteri). Dalam Pembahasan kali ini akan lebih terfokus pada grup maseral Liptinite yang terdiri dari beberapa jenis maseral yang berasal dari tumbuhan tingkat rendah.

PEMBAHASAN

Liptinit tidak berasal dari materi yang dapat terhumifikasikan melainkan berasal dari sisa tumbuhan atau dari dari jenis tanaman tingkat rendah seperti spora, ganggang (algae), kutikula, getah tanaman (resin) dan serbuk sari (pollen). Berdasarkan morfologi dan bahan asalnya, kelompok liptinite dapat dibedakan menjadi sporinite (spora dan butiran pollen), cutinite (kutikula), resinite (resin/damar), exudatinite (maseral sekunder yang berasal dari getah maseral liptinite lainnya yang keluar pada proses pembatubaraan), suberinite (kulit kayu/serat gabus), fluorinite (degradasi dari resinite), liptodetrinite (detritus dari maseral liptinite lainnya), alginite (ganggang) dan bituminite (degradasi material algae). Relatif kaya dengan ikatan alifatik sehingga kaya akan hidrogen atau bisa juga sekunder, dimana terjadi selama proses pembatubaraan dari bitumen.

Sifat optis: reflektivitas rendah dan fluoresense tinggi, dari liptinit mulai gambut dan batubara pada rank rendah sampai pada batubara sub bituminus relatif stabil (Taylor et.al., 1998). Di bawah mikroskop, kelompok liptinite menunjukkan warna kuning muda hingga kuning tua di bawah sinar fluoresence, sedangkan di bawah sinar biasa kelompok ini terlihat berwarna abu-abu sampai gelap. Liptinit mempunyai berat jenis 1,0–1,3 dan kandungan hidrogen yang paling tinggi dibanding dengan maseral lain, sedang kandungan volatille matter sekitar 66%. Pada petrografi  dari kelompok liptinite tentang macerals yaitu semuanya memiliki reflektansi yang lebih lebih rendah dari maceral vitrinit dalam batubara yang sama.  Macerals kelompok ini sangat sensitif terhadap pembatubaraan dengan pendekatan maju dan macerals liptinite mulai dari rank batubara menengah dan volatile tidak hadir dalam rank batubarat rendah-volatile. Ketika macerals liptinite dijumpai dalam batubara, maceral ini cenderung mempertahankan bentuk tanaman aslinya dan sehingga maseral ini berupa fosil tanaman atau phyterals. Sifat phyteral dari macerals liptinite adalah dasar utama yang diklasifikasikan.

Liptinite Group

  1. Asal – macerals liptinite yang berasal dari bagian tanaman seperti spora,kutikula,  dan resin.
  2. Kelimpahan – yang macerals liptinite umumnya membuat tentang 5-15% dari sebagian besar Amerika Utara bara. Mereka umumnya paling banyak diAppalachian bara.  Pada suatu reflektansi dari 1,35-1,40 sebagian besar macerals liptinite menghilang dari batubara.
  3. Density – yang macerals liptinite memiliki kerapatan terendah dari setiap kelompok maseral berkisar antara 1,18-1,28 gram / ml.
  4. Coking Properties – dalam proses coking beberapa macerals liptinite devolatilize sebagai gas dan ter tetapi mereka juga berkontribusi terhadap massa kokain.
  5. Kimia – dalam batubara diberi macerals liptinite memiliki kandungan hidrogen tertinggi dan kadar karbon terendah.
  6. Ketangguhan – di polishing, yang macerals liptinite dapat menunjukkan lega positif.
  7. Reflektansi – dalam batubara diberi liptinite macerals mempunyai reflektansi terendah.
  8. Fluoresensi – semua macerals liptinite berpendar saat bersemangat oleh cahaya ultra-violet.

Liptinite Group

Sporinite
sporinite adalah salah satu maseral dari grup maseral liptinite yang paling umum yang  berasal dari lapisan lilin spora fosil dan serbuk sari. Pada umumnya maseral ini memiliki bentuk bulat pipih dengan bagian atas dan belahan rendah dikompresi sampai datang secara bersama-sama. Permukaan luar dari macerals sporinite sering menunjukkan berbagai macam ornamen. Perlu dicatat bahwa dalam bagian yang paralel atau dekat sejajar terhadap bidang perlapisan batubara, yang macerals sporinite akan muncul untuk mengambil sebuah disk atau yang dapat berbentuk oval dengan resinite. Dalam Paleozoikum bara dua jenis spora yang umum. Yang lebih kecil, biasanya <100 mikron dalam ukuran disebut mikrospora dan yang lebih besar berkisar sampai beberapa milimeter diameter disebut megaspores. Sporinite juga dapat diklasifikasikan berdasarkan ketebalan dinding spora – berdinding tipis (tenuispores) dan berdinding tebal (crassispores). Spora terbentuk dalam kantung (sporangium) pada tanaman asli yang mereka dipadatkan menjadi empat kelompok tetrahedral. Bukti formasi ini kadang-kadang dapat dilihat di bawah mikroskop sebagai trilete bekas luka

Gambar 1. Maseral sporinite (S) yang nampak pada microscop

Cutinite
Meskipun tidak sangat berlimpah, maseral ini umumnya ditemukan di sebagian besar batubara dan berasal dari lapisan luar lilin daun, akar dan batang. Hal ini terjadi sebagai stringer panjang,  yang seringkali memiliki satu permukaan yang cukup datar, dan permukaan yang lain adalah crenulated. Cutinite biasanya memiliki reflektansi yang sama dengan yang sporinite. Kadang-kadang stringer dari cutinite yang terdistorsi. Karena cutinite terjadi pada fragmen lembaran dan sangat tahan terhadap cuaca, kadang-kadang terkonsentrasi dalam cuaca

Gambar 2. Maseral cutinite (Cu)

Resinite
macerals Resinite adalah  mana-mana,  meskipun dalam jumlah yang kecil kecil,  komponen di sebagian besar Amerika bara di bawah jenjang menengah-volatile aspal. Mereka biasanya tidak hadir dalam bara peringkat lebih tinggi. Meskipun macerals resinite biasanya kurang dari 3% dari kebanyakan US bara, mereka sangat berlimpah di batubara dari Dataran Tinggi Wasatch di Utah di mana mereka dapat ditemukan dalam jumlah sekitar 15% dari macerals ini. macerals Resinite memiliki dua mode umum terjadi. Pada sebagian besar Appalachian dan pertengahan barat batubara US resinites terjadi sebagai primer (hadir pada saat deposisi) tubuh bulat dengan sumbu panjang berkisar antara 25-200 mikrometer. Sementara tubuh bulat utama resinite juga ditemukan di AS barat bara Kapur / umur Tersier, banyak resinite dalam bara terjadi sebagai cleat sekunder dan pengisi kekosongan. Resinite sekunder ini menunjukkan hubungan mengganggu batubara host dan sering menunjukkan tekstur aliran dan membawa xenoliths batubara di veinlets resinite. Mikroskop fluoresensi menunjukkan bahwa hanya ovoid resinite primer umumnya menunjukkan “oksidasi” atau “rims reaksi” yang menyarankan perubahan permukaan. Pendar analisis spektral biasanya dapat membedakan resinite dari macerals lain dan dalam kebanyakan kasus juga bisa membedakan resinites berbeda.

Gambar 3. Maseral Resinite (R)

Alginite

Alganit adalah maceral pada batubara yang berasal dari jamur jamur yang tumbuh pada saat pembentukan gambut dan ikut terakumulasi pada saat proses pembatubaraan. Batubara yang pada umumnya seperti ini banyak terbentuk pada zaman pra kambrium . Jarang terjadi di sebagian besar batubara dan sering sulit membedakan dari materi mineral. Namun, dalam ultra-violet menyalakannya fluoresces dengan warna kuning cemerlang dan menampilkan penampilan seperti bunga khas.

Gambar 4. Maseral Alginite (Ag)

Liptodetrinite

adalah bentuk klastik dari liptinite di mana fragmen fragmen dari berbagai jenis maceral muncul berbagai liptinite sebagai partikel tersebar.

Gambar 5. Maseral Liptodetrinite

Suberinit

Merupakan maceral yang terdapat dalam batubara yang memperlihatkan atau masih menampakkan bentuk-bentuk dari serat kayu dari bahan pembentuknya yang tidak terhancurkan secara baik pada saat proses pembatubaraan. Dengan maceral ini, kita dapat mengetahui dari jenis tumbuhan apa batubara tersebut terbentuk.

Gambar 6. Maceral suberinit

Kesimpulan

Liptinit tidak berasal dari materi yang dapat terhumifikasikan melainkan berasal dari sisa tumbuhan atau dari dari jenis tanaman tingkat rendah seperti spora, ganggang (algae), kutikula, getah tanaman (resin) dan serbuk sari (pollen). Berdasarkan morfologi dan bahan asalnya, kelompok liptinite dibedakan menjadi sporinite (spora dan butiran pollen), cutinite (kutikula), resinite (resin/damar), exudatinite (maseral sekunder yang berasal dari getah maseral liptinite lainnya yang keluar pada proses pembatubaraan), suberinite (kulit kayu/serat gabus), fluorinite (degradasi dari resinite), liptodetrinite (detritus dari maseral liptinite lainnya), alginite (ganggang) dan bituminite (degradasi material algae)

Ucapan terima kasih

Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga paper ini dapat terselesaikan dan pertama saya ucapkan banyak terima kasih kepadan kedua orang tuaku yang telah memberikan begitu banyak kebaikan dalam bentuk apapun serta kasih sayangnya selama ini, dan teman temanku yang telah memberikan  motivasi dan saran sarannya hingga paper ini terselesaikan, semoga keakraban kita yang sudah seperti saudara ini dapat terus kita jaga hingga kita sarjana bahkan sampai kita tua kelak.  Dan  terlebih saya ucapkan banyak terima kasih kepada bapak Dr. phil nat Sri Widodo, ST, MT yang dalam hal ini sebagai dosen mata kuliah genesa batubara yang telah memberikan begitu banyak motivasi dan mengajak saya dan teman teman untuk terus menambah wawasan agar bisa lebih baik, serta dengan adanya tugas ini menjadikan kami banyak lebih tahu tentang banyak hal terkait batubara. Semoga apa yang saya tulis dan rangkum ini dari berbagai sumber dapat bermanfaat bagi kita semua.

Referensi

  1. Abernethy, R.F. &. Gibson, F.H. Rare Elements in Coal, Information Circular 8163, Bureau of Mines, United States Department of lnterior (1963).
  1. 2. American Society for Testing and Materials, 1979, Ann. Book of Standards, Part 26, Gaseous Fuels; Coal and Coke; Atmospheric Analysis: Am. Soc. for Testing and Materials, Philadelphia, PA, 938 p.
  2. 3. Indiana Geological survey,  A research institute of Indiana University
  3. 4. Schapiro, N., and R. J. Gray, 1960, Petrographic classification applicable to coals of all ranks: Proceed. Ill. Min. Inst., p. 83-97.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s